Ramai dan viral film berjudul “Vina Sebelum 7 Hari” menyita perhatian warga net khususnya umat Islam yang kepo, apakah arwah benar–benar bisa kembali ke dunia untuk memberikan informasi, konfirmasi ataupun klarifikasi? Apakah perkara ghaib semacam itu, dibenarkan dalam pemahaman dan aqidah (keyakinan) agama Islam?
Maka pada kesempatan ini, kami mencoba menyuguhkan beberapa argumentasi dari berbagai referensi yang ada.
Pertama, alam kubur, adalah tempat persinggahan awal manusia setelah kematiannya, bahkan seorang sahabat yang mulia, Utsman bin Affan radhiyallahu’anhu, lebih mudah menangis ketika melewati kuburan daripada saat diingatkan tentang perkara surga & neraka, karena alam kubur adalah “seleksi” awal keimanan manusia, yang akan menentukan nasibnya pada tempat² berikutnya di akhirat.
Hani’ radhiyallahu’anhu, bekas budak Utsmân bin Affân radhiyallahu’anhu, menceritakan:
Kebiasaan Utsman radhiyallahu’anhu jika berhenti di sebuah kuburan, beliau menangis sampai membasahi janggutnya. Lalu beliau radhiyallahu’anhu ditanya, ‘Disebutkan tentang surga dan neraka tetapi engkau tidak menangis. Namun engkau menangis dengan sebab ini (melihat kubur). Sesungguhnya beliau, Rasûlullâh shallallahu ‘alayhi wa sallam bersabda, ‘Kubur adalah persinggahan pertama dari akhirat. Bila seseorang selamat dari nya, maka setelahnya lebih mudah darinya; bila seseorang tidak selamat dari nya, maka setelahnya lebih berat darinya.’ Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda, ‘Aku tidak melihat suatu pemandangan pun yang lebih menakutkan daripada kubur.’ [HR. At-Tirmidzi dan Ibnu Mâjah]
Nabi shallallahu ‘alayhi wassalam bersabda, “Kuburan itu (bisa berupa) taman dari taman-taman surga atau lubang dari lubang-lubang neraka.” [HR. Imam At-Tirmidzi dari sahabat Abu Sa’id]
Kedua, seringkali kita juga mendengar, bahwa alam tempat arwah atau ruh manusia yang telah meninggal akan berada di alam barzakh, dimana makna sesungguhnya dari barzakh itu adalah “pembatas” atau “penghalang” atau “dinding”, yang berarti seorang manusia yang telah meninggal akan dibatasi dan terhalang untuk kembali lagi ke alam dunia.
(Demikianlah keadaan orang-orang kafir itu), hingga apabila datang kematian kepada seseorang dari mereka, dia berkata, “Ya Tuhanku, kembalikanlah aku (ke dunia), agar aku berbuat amal yang saleh terhadap yang telah aku tinggalkan.” Sekali-kali tidak. Sesungguhnya itu adalah perkataan yang diucapkannya saja. Dan di hadapan mereka ada dinding sampai hari mereka dibangkitkan. [Surat Al Mu’minuun (23) : 99-100]
Disebutkan Imam Ath Thabari, makna barzakh:
حجاب بين الميت والرجوع إلى الدنيا
“(Barzakh) adalah hijab (penghalang) antara si mayat dengan kembalinya ia ke dunia.” [Ibnu Jarir Ath-Thabariy dalam Jami’ Al-Bayan Fi Ta’wil Ayil Qur`an]
Allah Ta’ala menceritakan tentang keadaan orang yang sedang menjelang kematiannya dari kalangan orang-orang kafir atau orang-orang yang melalaikan perintah Allah. Diceritakan pula perkataan mereka saat itu dan permintaan mereka untuk dapat dikembalikan lagi ke dunia untuk memperbaiki apa yang telah dirusakkannya selama hidupnya [Tafsir al-Qur’an al-Adzim]
Ketiga, setelah memahami bahwa alam kubur ataupun alam barzakh adalah termasuk alam akhirat, tentunya juga harus dipahami bahwa alam akhirat adalah alam yang berbeda dan juga terpisah dari alam dunia, dan jika ada manusia (atau makhluk apapun) yang bisa travelling, bisa bolak–balik, pulang–pergi dari dunia menuju akhirat lalu kembali lagi ke dunia, dan seterusnya sampai capek sendiri, maka tidak akan ada gunanya lagi kematian, kuburan, kirim doa, dosa dan pahala, karena manusia bisa melakukan remidi ataupun revisi dari semua perbuatannya selama hidup di dunia.
Bahkan seorang sahabat yang mulia, Sa’ad bin Mu’adz radhiyallahu‘anhu, dikabarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam tak bisa keluar dari “ujian” kubur, meskipun pada akhirnya beliau selamat.
Dalam Musnad Ahmad diriwayatkan dari ‘Aisyah radhiyallahu‘anha bahwa Rasulullah shallallahu‘alayhi wa sallam bersabda :
“Sesungguhnya kubur itu memiliki himpitan yang bila seseorang bisa selamat darinya, maka (tentu) Sa’ad bin Muadz telah selamat.” [HR. Ahmad, no. 25015; 25400; Dishahihkan dalam Shahihul Jami’ 2/236]
Dalam Sunan An-Nasa’i diriwayatkan dari Ibn ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma bahwa Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam bersabda :
“Inilah yang membuat ‘arsy berguncang, pintu-pintu langit dibuka, dan disaksikan oleh tujuh puluh ribu malaikat. Sungguh ia (Sa’ad) dihimpit dan dijepit, kemudian dibebaskan.” (Kitab Misykatul Mashabih 1/49; Silsilah Ash-Shahihah, no. 1695)
Himpitan kubur ini akan menimpa setiap orang, termasuk anak kecil sekalipun. Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam bersabda :
“Seandainya ada seseorang selamat dari himpitan kubur, maka anak kecil ini pasti selamat.” [Mu’jam Ath-Thabrani dari Abu Ayyub radhiyallahu ‘anhu dengan sanad shahih dalam Shahihul Jami, 5/56]
Imam Ahmad rahimahullah meriwayatkan dalam hadits shahih (Shahihul Jami’ no: 1672), dari sahabat Al-Barra bin ‘Azib radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu‘alayhi wa sallam menceritakan nasib seseorang di alam kubur, setelah mereka diuji dengan tiga pertanyaan pokok agama (siapa Tuhannya, apa agamanya dan siapa nabinya) oleh malaikat Munkar dan Nakir, diantaranya yang pertama adalah kondisi orang beriman:
Lalu seorang penyeru dari langit berseru, “HambaKu telah berkata benar, berilah dia hamparan dari surga, dan berilah dia pakaian dari surga, bukakanlah sebuah pintu untuknya ke surga”
Maka datanglah kepadanya bau dan wangi surga. Dan diluaskan baginya di dalam kuburnya sejauh mata memandang. Dan datanglah seorang laki-laki berwajah tampan kepadanya, berpakaian bagus, beraroma wangi, lalu mengatakan, “Bergembiralah dengan apa yang menyenangkanmu, inilah harimu yang engkau telah dijanjikan (kebaikan)”. Maka ruh orang Mu’min itu bertanya kepadanya, “Siapakah engkau, wajahmu adalah wajah yang membawa kebaikan?” Dia menjawab, “Aku adalah amalmu yang shalih”. Maka ruh itu berkata, “Rabbku, tegakkanlah hari kiamat, sehingga aku akan kembali kepada keluarga dan hartaku”
Yang berikutnya adalah kondisi orang kafir dan munafik:
Lalu penyeru dari langit berseru, “HambaKu telah (berkata) dusta, berilah dia hamparan dari neraka, dan bukakanlah sebuah pintu untuknya ke neraka.” Maka panas neraka dan asapnya datang mendatanginya. Dan kuburnya disempitkan, sehingga tulang-tulang rusuknya berhimpitan.
Dan datanglah seorang laki-laki berwajah buruk kepadanya, berpakaian buruk, beraroma busuk, lalu mengatakan, “Terimalah kabar yang menyusahkanmu! Inilah harimu yang telah dijanjikan (keburukan) kepadamu”. Maka ruh orang kafir itu bertanya kepadanya, “Siapakah engkau, wajahmu adalah wajah yang membawa keburukan?” Dia menjawab, “Aku adalah amalmu yang buruk”. Maka ruh itu berkata, “Rabbku, janganlah Engkau tegakkan hari kiamat”.
Perlakuan yang diberikan baik kepada orang beriman ataupun orang kafir & munafik di alam kubur itu, akan berlangsung dan berulang terus menerus sampai kelak mereka akan dibangkitkan dari alam kubur yaitu pada saat Hari Kiamat. Hal ini terungkap dari permohonan si mukmin untuk mensegerakan kiamat, “Rabbku, tegakkanlah hari kiamat, sehingga aku akan kembali kepada keluarga dan hartaku”, tetapi sebaliknya, justru si kafir/munafik memohon agar menunda-nunda kiamat, “Rabbku, janganlah Engkau tegakkan hari kiamat”.
Lalu bagaimana dengan fenomena akhir2 ini yang sering menjelaskan bahwa ada sosok arwah yang masih gentayangan dan merasuki tubuh manusia dan bisa memberikan beberapa informasi kepada orang-orang yang masih hidup di dunia. Apakah sosok gaib tersebut benar-benar arwah orang yang sedang meninggal atau mungkinkan sosok tersebut adalah jin yang menyerupakan diri sebagai manusia yang sudah meninggal?